Jumat, 03 Februari 2012

Kruk As Tambal Sulam, Kawasaki Ninja 150


 

Buat tarung di kelas sport 2-tak standar s/d 155 cc, Kawasaki Ninja 150 milik Ahmad Wahyudi ini dibekali ubahan di bagian kruk as. Part penggerak setang seher naik-turun ini dimodifikasi demi kail power bawah. So, pacuan pun mudah melejit sejak start. Bahkan, sang joki pun kerap merasakan podium pertama di beberapa ajang dragbike berbeda. 

“Bobot kruk as dibuat lebih enteng. Total berat sekarang jadi 2,2 kg. Metodenya, ada bagian yang dilubangi lalu ditutup lagi pakai bahan aluminium,” ungkap Jajang Siswanto dari Jang’s SBL Motor di Jl. Rawa Jaya, No. 24, Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Lewat kruk as yang sengaja dibuat enteng ini, putaran bandul yang berfungsi buat menggerakan setang seher dan piston juga jadi lebih ringan tuh. Imbasnya, power jadi lebih mudah dikail sejak putaran bawah. Wuzzzzhh...

Apalagi buat tambah dongkrak putaran bawah, bermain di sektor pengapian. Memakai CDI milik Ninja 150 RR tipe 1454, tapi bobot magnet dibikin lebih ringan. Dari berat standarnya yang sentuh 1,3 kg, dibikin jadi 900 gram. Ini bikin putaran kruk as tak terlalu terbebani.

Tapi Jang, begitu tunner ini akrab disapa, ogah kecolongan. Artinya, tak hanya fokus di putaran bawah. Akan berakibat terlalu ringan, napas jadi cepat habis. Doi, pertimbangkan power buat putaran atas.

Makanya, seting gigi rasio juga dimainkan. Terutama untuk gigi I dan II. “Sebenarnya agak dibuat lebih berat. Gigi I pakai 13/25 mata. Gigi II, pakai 19/ 28 mata,” sebut pria yang dulu sempat ikut balap grasstrack dan juga road race di tahun 90-an itu.

Oh ya! Gigi VI juga ikut diubah susunan rasionya. Tapi, hanya sekadar penyambung power saja. Makanya, Jang hanya menggantinya pakai kombinasi 21/ 20 mata. Lewat ubahan ini, sang joki pun enggak perlu kuatir si Ninja kena asma alias kehabisan napas! Karena final gear memakai kombinasi 14 mata (depan) dan 36 mata (belakang).

Ubahan seting magnet dan kruk as diikuti lewat pengikisan lubang transfer. “Lubang transfer dibuat agak rata. Lalu, tinggi exhaust dibikin jadi 30 mm. Enggak perlu banyak-banyak dipapasnya, karena cuma buat main di kelas 150 standar aja kan,” sebut pria ramah ini.

Permainan di kepala silinder juga ikut tentukan seting akhir. Setelah blok silinder dipapas 2 mm agar piston nongol, kepala silinder juga dipapas 2,5 mm. Nut dibuat turun 0,8 mm dan lebar 8 mm dengan kemiringan squish 14º.

“Kalau kompresi enggak dihitung. Tapi, tergolong tinggi. Saya ukur pakai buret di atas kaca datar, volume ruang bakar jadi 19 cc,” bilang tunner 33 tahun itu. Oh ya, akibat pemapasan yang rada ekstrem, di blok dan head itu, Jang aplikasi dua paking head agar piston tak membentur kubah yang diameternya dibuat sama layaknya piston. Gas terus! (motorplus-online.com)
 
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Eat My Dust 45/90-17
Ban belakang : Eat My Dust 60/80-17
Pelek : Takasago 1.85 x 17
Knalpot : DBS
Karburator : Standar reamer 30 mm
SBL Motor  (021) 998-58225

Tidak ada komentar:

Posting Komentar