Jumat, 14 Oktober 2011

Special Performance Kawasaki Ninja ZX-6R, Berknalpot Akrapovic



Kawasaki Ninja ZX default-6R is the only information that is marked as a racing engine. But for his fans in Britain, Kawasaki Ninja ZX-alias line and add a special version of 6R.

Yeah, I just see a difference prior to Kawasaki chasti.Prichina aerodynamic windshield and a more convex, and made of scratch-resistant.

In addition, work with one of the leading manufacturers of exhaust gases from Akrapovic Race logo letter of Slovenia to the Ninja ZX-manufacturer racing slip on exhaust system adds capacity model 6R.

Use exhaust system, which is believed to be Ninja ZX-that aura of power and even more amazing performance 6R race. Countries with economies in transition, the official Akrapovic Kawasaki tuner, but the exhaust is guaranteed for two years, but still, you know.


And finally, using the back cover of the space capabilities Ninja ZX-6R is now an impressive, if I race the engine.

Unfortunately, despite the obvious, such as preparing feed dealer Ninja ZX face of engine capacity-6R so far the standard model, that is, depending on the power cylinder 134 DK DOHC4 in 600 cc. (Motorplus-online.com)

Kamis, 13 Oktober 2011

Dijual Rp 210 Ribuan, Koil Racing Kawahara


Kalau sebelumnya Kawahara hanya berkonstrasi pada perangkat mekanis seperti paket bore up, knalpot hingga CVT, kini mulai merambah ke komponen elektrik.

Salah satunya adalah diluncurkannya koil racing baru. "Masih baru banget nih," semangat Ergus Oie, dari R59 Matic Shop pada koil berwarna merah ini.

Menurut Ergus yang juga pemilik salah satu tim balap Honda ini, koil Kawahara yang dijualnya bisa dipasang untuk semua motor. "Universal, motor apa aja bisa pakai," yakinnya sambil memastikan kalau percikan api nya akan lebih besar.

"Harganya dijual Rp 210 ribu," tambah pemilik toko di Jl. Dewi Sartika no.32, Ciputat, Tangerang Selatan. Ergus juga siap dikontak lewat nomor telepon 021-7430062 (motorplus-online.com)

Lampu Yamaha Mio Dua Kali Lebih Terang, Tes Kiprok BRT



Cuma dijual Rp 85 ribu, tersedia juga buat bebek dan matik lain
Tak ada
salahnya mengganti part standar bawaan motor dengan produk aftermarket. Apalagi jika tujuannya demi sesuatu yang lebih baik.

So, sesuatu banget dech! Sama seperti ketika mengganti kiprok standar Yamaha Mio dengan kiprok merek BRT. Part voltage regulator ini menjamin pendaran cahaya yang dihasilkan lebih terang.

Coba buktikan lewat tes. Pakai light meter untuk mengukur intensitas cahaya, Yamaha Mio 2011 diukur ketika masih pakai kiprok standar. Jarak antara alat dan sumber cahaya alias lampu, sepakat dipatok satu meter.

Engine digeber konstan di 6.000 rpm. Hasil yang didapat, angka di light meter tak beranjak dari 1.500 candela (Cd). Dengan metode sama, kiprok standar diganti kiprok BRT yang dijual hanya Rp 85 ribu itu.

Tembus hingga angka 3.200 candela diukur light meter
Terbukti, pendaran cahaya yang dihasilkan memang lebih terang. Angka di light meter pun tembus hingga 3.200 Cd. So, itu artinya dua kali lipat lebih terang.

"Biasanya pabrikan menggunakan satu part part untuk general motor. Padahal, tidak semua beban lampu sama,” jelas Tomy Huang dari Bintang Racing Team (BRT) yang punya workshop di Jl. Mayor Oking, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.      (motorplus-online.com)

Rabu, 12 Oktober 2011

Turun Spek Demi Lawan, Modif Suzuki Satria F-150


Aslinya Suzuki Satria F-150 punya Abdul Hamid Manan dari Pulogebang, Jakarta Timur ini, untuk turun di trek 800 meter. Cuma karena enggak ada lawan, Hari Novrian sang mekanik Hari Motor pun terpaksa turun spek.

“Kebetulan ada lawan yang spek-nya di bawah 800 meter. Hasil negosiasi sepakat jadi 600 meter. Pertama memang kalah karena bocor komporesi di head. Ke-2 malah bisa ninggal jauh motor lawan,” bangga mekanik di Jl. H. Naman, Blok R6, Pondok Kelapa, Jaktim.

Diakui Hari, motor tunggangan Dani Tilil ini tak banyak diubah untuk turun spek. Hanya agar mantap akselarasi tanpa mengurangi performa di top-speed. Seperti kompresi, awalnya 12,5:1 buat trek 600 meter naik jadi 13,5:1. Atu bisa dibilang naik satu poin agar putaran mesin bawah jadi lebih responsif.

"Maklum, trek lebih pendek kudu manjakan akselarasi. Apalagi rasio gigi 1 sampai 6 yang digarap koh Nanang Gunawan dari MCC untuk trek 800 meter masih dipakai. Paling gir ganti dari 16/34 jadi 15/35,” ujar mekanik disapa Uda ini.
Untuk bisa ninggalin rival, motor 250 cc setelah bore up juga naik stroke. Pakai piston Scorpio 70 mm dan stroke 66 mm setelah ganti stang piston RX-Z. Cuma harus geser pen kruk-as 9 mm dengan cara pen kruk-as asli diameter 28 mm diganti jadi 22 mm punya RX-Z. Lalu bekas lubang ditambal daging sambil dibuatkan lubang pen baru.

“Paking atas pakai standar 1 lembar. Paking bawah selain diganjal pelat aluminum 2 cm juga ditambah paking standar 1,5 mm,” ulas bapak dua anak ini.

Gabungan bensol biru, Pertamax dan udara dari karbu NSR SP reamer jadi 32 mm dengan spuyer 135/50. Buka-tutup diatur klep Thunder 125 yang punya ukuran 26 mm (in) dan 23 mm (ex).Diimbangi durasi kem 260 derajat baik untuk klep in maupun out.

Ayo siapa berani?. (www.motorplus-online.com)

Kampas Kopling Suzuki RGR

Komponen vital penentu kemenangan motor garapan Hari Novrian adalah kampas kopling. Tanpa didukung peranti mumpuni ini, tenaga motor hasil pembakaran akan percuma. Lantaran tenaga yang ditransfer tidak sepenuhnya dapat memutar roda belakang.

“Khusus untuk Satria F-150 ini, dipercayakan pada kampas kopling punya Suzuki RGR150. Selain memiliki material lebih kuat, penampang permukaan kampas juga lebih lebar. Risiko kampas selip jauh dari bayangan,” ujar Hari yang mempercayakan knalpot custom Joko Exhaust untuk pipa gas buang.

Dibanding aslinya, jika dipakai untuk balap biasanya tapak kampas gampang lepas. Selain itu umur pakai juga enggak bisa dipakai lebih dari 2 kali turun.

Wah, boros, dong?

Herbie Racer 53, Honda CB100


Nanang El Yaqien punya profesi sebagai model iklan. Makanya nggak heran, dia juga suka mengamati film legendaris khususnya yang berkaitan dunia otomotif. ”Salah satunya VW sakti yang punya roh macam manusia dan jago balapan, Herbie. Replikanya juga dibuat modifikator kita. Tentunya berbentuk mobil,” buka Nanang.

Bahan CB100 jadi modal awal berikut performa mumpuni dengan menaikkan cc menjdi 200cc sesuai karakter Herbie sebagai mobil balap. CB yang masuk kategori motor klasik memang dirasa cocok. ”Konstruksi sasis tubular, single down tube menjadikannya cocok untuk modifiaksi ini,” jelas life members MMC-Outsiders Jakarta ini.

Sebagai pelaksana lapangan, ia menugaskan bengkel intern club berjuluk Aiwiwww Art Shop (AAS) yang digawangi Eko ‘Koi’ Yulianto, bro asli Jogja yang bermukim di Jakarta. Lewat diskusi dengannya dipilih genre modif café racer yang dekat dengan nuansa flat track sport.
“Kaki-kaki motor ini harus mumpuni. Maklum Nanang berkarakter speedy dan doyan turing terutama saat mengunjungi motor chapter kami di Bandung. Untuk itu sok depan-belakang tidak lagi memakai CB tapi diganti Tiger asli di depan dan YSS di belakang. Demi performa juga estetika, lengan ayun dipakai milik Tiger juga,” jelas Eko lagi.

Jarahan bodywork di rumah modifiaksi ini terbilang simpel dan benar-benar menganut café racer klasik. ”Inilah simplisitas untuk gaya modifikasi ini, sasis juga nggak perlu banyak diobrak-abrik seperti halnya chopper. Rake juga dibiarkan tetap seperti semula dan hanya fokus pada rombakan di baju semisal tangki dan bagian jok dan buntut,” jelas Koi.  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax 120/70
Ban belakang: Battlax 150/70x17
Pelek depan : Tatsuno 2,15x17
Pelek belakang: Tatsuno 3,50x17
AAS : 0813-8311-4849

Pelatuk Klep Roller Bikin Podium Suzuki Smash Titan


Daya tahan jadi kuncian selain power yang besar. Ini yang diterapkan Suzuki Smash Titan 110 tunggangan Ocky Lukman S. saat main di IP 110 Indoprix Seri III, Sirkuit Sentul. Kombinasi itu tidak terlepas dari peran pelatuk kem model roller yang diaplikasi.

Sejatinya pelatuk klep Titan aplikasi model sepatu alias konvensional. Berkat roller rocker arm, Smash Titan bernomor start 86 mampu ke podium setelah menempuh 12 lap lintasan sepanjang 3.965 meter (47.580 km).

Buat mengubah pelatuk jadi model roller, tidak banyak yang dilakukan. “Pelatuk dapat dari Suzuki dan memang diperuntukan untuk Titan. Sehingga penyesuaian hanya di profil kem saja,” ungkap Hasyim Sonedi, mekanik tim Cargloss AHRS IRC Racing Team.

Cara ubah kem Titan dilas pakai argon dan profilnya disesuai kebutuhan pelatuk. Ya, lebih membulat. Durasi juga dibuat ulang. Untuk klep isap (in) durasi bumbungan dibuat jadi 270º. Angka yang sama juga berlaku bagi klep buang (ex).

Lengkapnya, durasi klep isap membuka 30º sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60º sebelum TMB (Titik Mati Bawah). Sedang klep buang, membuka 60º sebelum TMB dan menutup 30º sebelum TMB.

Paduan durasi ini bikin Lobe Separation Angle (LSA) bermain di 105º. Karakter LSA ini cenderung bermain rata. Artinya, grafik putaran tenaga motor tidak menonjol di satu sisi. Misalnya di putaran bawah saja atau atas.

Meski durasi sama, diakui Hasyim tinggi bumbungan kem dibuat beda. “Ini ditujukan untuk keperluan lift klep. Karena lift klep in dan ex dibuat beda,” buka tunner berumur 30 tahun itu.

Disokong klep diameter 27,8 mm (in) dan 23 mm (ex), lift klep buat klep in dipatok di 9,4 mm. So, pasokan gas bakar jadi lebih deras. Sedang klep ex, hanya bermain di angka 9 mm. Dengan per klep Jepang, katanya sangggup diajak menahan beban tekan hingga 14 ribu rpm.

Masih bermain di sekitar ruang bakar. Piston Izumi diameter 51,5 mm dibikin perbandingan kompresi menjadi 12,5 : 1. “Sengaja tidak ingin terlalu tinggi. Maksudnya biar mesin lebih tahan gesek juga impac,” kata mekanik kelahiran Jogja ini.

Mengimbangi setingan pada engine, pengapian turut dimainkan. Mengaplikasi CDI Vortex, timing magnet dibuat menjadi 11º. Padahal, kalau buat main di trek Kenjeran, Surabaya, timing disetel di 12º. “Sengaja diturunkan untuk mengejar putaran atas. Sentul kan lebih panjang,” bilang Hasyim yang ramah itu.  Sukses ya! (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Ban depan : IRC 166 90/80-17
Ban belakang : IRC 221 90/80-17
Sok belakang : Yohsimura
Karburator : Mikuni Sudco 24 mm
Knalpot : AHRS
 

Kode Mengenal Di Ban


  
Angka Terdepan

Terkadang kita melihat angka terdepan yang berbeda-beda. Misalnya, angka 90  bahkan di bawah atau di atas angka itu. Angka terdepan dari ukuran ban ini menandakan total lebar ban. Hitungannya, dalam satuan milimeter (mm). Maka, jika 80 itu artinya 80mm lebar tapak ban. Tapak ini, juga tergantung kebutuhan. Misalnya; harian, balap. Bahkan, balap darg atau road race.

Tapi, ada juga ban yang menggunakan angka berbeda. Misalnya, 2,75 atau 3,00. Sebenarnya sama saja. Tapi, kalau 2.75 dihitung dalam satuan inci dengan tinggi ban 100% dari total lebar ban.

Angka Kedua
Dilanjutkan angka kedua. Tapi, biasanya angka ini hanya terdapat di ban yang menggunakan satuan milimeter. Ya, bukan di ban yang pakai satuan inci buat ukurannya. Seperti yang dijelaskan di angka pertama. Angka kedua ini, juga beragam. Misalnya, 60 hingga 90.

Bisa dikatakan, kalau angka ini mewakili dari aspek rasio ban. Misal jika tertera angka 90. Maka, aspek rasio ban adalah 90% dari total lebar ban (mm). Contoh 100/90. Maka lebar ban 100 mm, tingginya 100x(90/100) = 90 mm.

Angka Terakhir
Angka terakhir dari susunan ban, mewakili diameter ban itu sendiri. Misalnya, 90/80-14. Nah, angka 14 ini yang menyatakan lingkar ban untuk disamakan dengan pemakaian pelek. Satuannya, dalam inci.

Ukuran diameter ban dan pelek yang biasa diaplikasi motor mulai dari 8, 10, 12, 14, 16, 17, 18 hingga 21 inci. Tapi, untuk motor umumnya harian seperti skubek alias matik bermain di 12, 14 dan 16 inci. Tipe bebek, 17 inci. Sport, 17 – 18 inci. Trail, mulai dari 16– 21 inci.

Tulisan M/C
Usah bingung jika tertera huruf ini. Ya, ada tulisan M/C. Artinya, bukan pemandu atau pembawa acara, lho. Itu sih Master of Ceremony (MC). Kalau di ban, huruf ini hanya sebagai penanda kalau ban yang dimaksud itu adalah ban yang diperuntukan khusus buat sepeda motor.

Oleh pabrikan, M/C melambangkan tulisan Motorcycle. Yup, khusus buat motor tuh! Bukan buat mobil. Toh kalau buat mobil pun, ukurannya masih kurang besar kan. He..he..he... Kalau ban buat mobil, biasanya bermain di ukuran 185/60-14 hingga diameter lebih dari 20 inci.

Tulisan 43S
Jika tertera angka dan huruf seperti 43S, kombinasi ini mewakili dua makna. Dari angka sendiri, dimaksudkan untuk load index. Artinya, beban maksimum yang diperbolehkan ketika berkendara. Mulai dari 30 hingga 52 biasa diaplikasi.

Jadi 43, mewakili beban maksimum untuk 155 kg. Sedang S, mewakili kecepatan. Ya, kecepatan maksimal yang diperbolehkan ketika berkendara pakai karet bundar ini. Mulai dari B hingga Y. B, 50 km/jam dan Y untuk 300 km/jam. So, S adalah 180 km/jam.

Tulisan Kombinasi 4 Angka
Biasanya, di sidewall alias dinding ban tertulis kombinasi 4 angka. Itu lho, yang seolah terletak di dalam kotak. Nah, lagi-lagi, ini merupakan kombinasi kode. Yaitu, kode produksi alias pembuatan ban. Misalnya, jika tertera paduan angka 3311.

Pabrikan ban, membagi 4 angka itu jadi dua angka terpisah. Ya, dua angka di depan dan dua lagi di belakang. Meski, tidak ada spasi antara angka ini. Nah, angka terdepan mewakili minggu. So, ban itu diproduksi di minggu ke 33. Lalu, dua angka di belakang mewakili tahun pembuatan. 11 alias 2011. Dibaca secara keseluruhan, ban diproduksi minggu ke-33 di tahun 2011.

Simbol Segitiga
Jika diperhatikan detail, di ujung paling luar dinding ban akan ditemukan simbol berbentuk segitiga. Bahkan, simbol ini tidak hanya satu. Bisa lebih, tergantung ukuran ban. Setidaknya, terdapat 6 simbol segitiga yang mengelilingi ban dengan penempatan secara proporsional alias sama rata.

Simbol ini mewakili TWI alias Tread Wear Indicator buat kasih tahu keausan ban. Semakin dekat simbol ke permukaan, tanda ban mulai aus. Selain di dinding, TWI ini juga bisa ditemukan di tapak ban. Yaitu, di sela-sela alur ban. Ada bagian kecil yang menonjol di grove.

Tanda Panah Di Sidewall
Ketika memasang ban, coba perhatikan tanda panah di sidewall. Tanda panah ini, dimaksudkan sebagai arah putaran ban alias rotasi atawa rotation. Arah panah selalu berputar searah jarum jam. Kalau berlawanan arah, itu artinya terbalik pemasangan.

Oh ya! Biasanya, pabrikan juga kasih himbauan jika ban yang diproduksi itu untuk keperluan balap atau harian. Untuk balap, akan diberi tulisan Race Tire ataupun Racing Use Only. Ada juga peruntukan bagi kondisi lintasan. Ya, wet or dry alias basah atau kering! Umumnya ban harian, kombinasi keduanya.

Pilih Turun 3 Step
Ketika memasang ban, coba perhatikan tanda panah di sidewall. Tanda panah ini, dimaksudkan sebagai arah putaran ban alias rotasi atawa rotation. Arah panah selalu berputar searah jarum jam. Kalau berlawanan arah, itu artinya terbalik pemasangan.

Oh ya! Biasanya, pabrikan juga kasih himbauan jika ban yang diproduksi itu untuk keperluan balap atau harian. Untuk balap, akan diberi tulisan Race Tire ataupun Racing Use Only. Ada juga peruntukan bagi kondisi lintasan. Ya, wet or dry alias basah atau kering! Umumnya ban harian, kombinasi keduanya.   (motorplus-online.com)