Jumat, 20 Januari 2012

Efek Celah Busi Pada Performa, Standar Paling Ideal


Perfoma mesin sangat tergantung dari kesempurnaan proses pembakaran dalam silinder. Dimana keberhasilan itu ditunjang bunga api busi. Apakah jarak loncatannya mampu membakar semua aliran gas bakar dari karburator yang sistem dan waktunya sudah diatur CDI dan koil.

Nah, untuk mengetahui kemampuan mesin dipengaruhi loncatan api busi tadi, Em-Plus dibantu Suwandi, mekanik NY Motor di Jl. Pangkalan Jati, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Melakukan tes perfoma mesin dengan cara mengatur celah atau gap busi di motor standar. Mulai dari posisi gap sangat rapat, standar hingga yang paling renggang sekalipun.

Dari hasil tes, gap busi yang dilakukan di bebek Suzuki Smash Titan 115 dapat disimpulkan. Untuk gap jarak busi sangat rapat dari ukuran standar atau lebih dekat ke elektroda, yang terjadi mesin agak sulit dihidupkan pastinya. Kalaupun bisa hidup, akselarasi sering tersendat-sendat. Bahkan di rpm idel, tak jarang mesin mati mendadak.

Sebaliknya bila gap busi dibikin sangat renggang atau di atas 0,7 mm untuk ukuran standar Smash Titan 115. Performa mesin memang sedikit lebih enak atau ringan dibanding gap busi standar. Idelnya normal, namun pada saat mesin diajak bergasing tinggi, dari bagian dalam silinder terdengar suara gemericik mirip knocking tapi halus.

Artinya, gap busi standar adalah yang ideal. Mesin mudah nyala, performa tetap optimal dan tidak boros bensin. Dan hasil tes ini bisa jadi acuan pemilik motor dalam menentukan gap busi agar lebih memperhatian kondisi mesin, sehingga pencemaran udara bisa diminimalisasi. (motorplus-online.com)

Kunci Kontak Yamaha Mio Rusak? Bisa Pakai Imitasi



Pengalaman kurang berkenan dialami Tisna Wimarna di Yamaha Mio lansiran 2007 miliknya. Ketika posisi parkir di kantornya, motor pun dilakukan ke mode kunci setang. Tentu agar timbul rasa aman dari gangguan Si Tangan Panjang ketika ditinggal bekerja.

Tapi, ketika ingin menon-aktifkan kunci setang lagi, tak ada respon yang diberikan. “Sudah diputar-putar pun, tak ada reaksi,” ungkap pria yang tinggal di Pondok Aren, Tangerang, Banten ini.

Akhirnya, motor ditinggal dalam posisi terkunci setang. Hal yang sama, juga dirasakan Herry Axl di Yamaha Mio miliknya. “Potensi kerusakan ini bisa disebabkan karena motor yang digeser-geser secara paksa ketika masih dalam posisi dikunci setang,” ujar Kuswanto dari bengkel M2M di Jl. Akses UI, Depok, Jawa Barat.

Agar motor bisa berjalan, akhirnya panel kunci kontak yang nempel di sasis kudu dibuka seluruhnya. Setelah ditelusuri, ada kerusakan di bagian dalam panel. Tepatnya rumah piston pendorong pengunci, pecah.

Di pacuan milik Tisna, part berbentuk kotak dengan celah di bagian tengah ini pecah dan terbagi menjadi 4 bagian. Jika part ini rusak, sobat kudu ganti keseluruhan kunci panel kontak.

Misalnya di Yamaha Mio, part ini dijual Rp 140 ribu dan termasuk kunci jok. Tapi, Kuswanto punya sedikit solusi. “Bisa manfaatkan rumah piston milik panel kontak imitasi buat Mio yang dijual di pasaran. Diambil rumah pistonnya saja, jadi panel kontak tetap pakai asli,” sarannya.

Tapi, tentunya material atau kekuatan part imitasi akan berbeda dengan part orisinal lho. Karena harga panel kontak keseluruhan yang ditawarkan part imitasi, cuma Rp 40 ribuan.

Cara penggantiannya mudah! Pertama, buka dua sekrup penutup panel belakang kontak pakai obeng kembang. Setelah itu, sejajarkan tuas dengan celah lubang di piston. Lalu, tarik keluar piston.

Usai piston terbuka, tinggal pasang part itu di panel kunci kontak yang lama. Kemudian, pasang lagi panel kunci kontak di sasis. “Selain buat Mio, rumah piston ini juga bisa dipakai di Yamaha Jupiter,” tutup Kuswanto. (motorplus-online.com)

Pelatuk Roller, Yamaha Mio


Di event IFO Drag Bike Competition seri 3 di Jakabaring, Palembang  (7/1) lalu, Yamaha Mio ini sukses merebut podium satu di kelas matic FFA s/d 250 cc. Motor dari tim Sinsin Mentari Primax Racing ini catatan waktunya 8.373 detik.

Resep jitu geberan Raymond Lee yang asal Jakarta ini lebih banyak tertular virus drag dari Ibu Kota. Yaitu pemakaian part Thailand dan lokal. Maklum saja yang ngerjain motor milik Fredy Ebol  dari Sinsin Mentari Racing itu mekanik ibu kota.

Tingkat kecepatan Mio ini salah satu faktornya adalah ditunjang dengan meminimalkan gesekan.  Caranya dengan menggunakan rocker arm roller. “Jadinya gesekan yang ditimbulkan lebih ringan dibanding memakai pelatuk standarnya,” terang Mansuri, dari bengkel Em-Push Racing di Jl. Joglo Raya, Jakarta Barat. 

Mansuri atau beken dipanggil Suri memasang pelatuk roller produk CLD yang dilengkapi dengan bearing. "Kuncinya di bearing ini. Bearing ini sangat membantu mengurangi gesekan. Beda dengan pelatuk yang tidak ada bearingnya. Gesekannya tinggi," jelas Suri yang memang disupport CLD itu.

Pelatuk model ini kabarnya pernah dites di motor balap Jupiter-Z yang dipakai road race di Jakarta. Dipakai uji balap road race sebanyak 14 lap. "Buat road race yang lama saja enggak ada masalah, apalagi buat drag yang cuma lurus 200 meter. Itu kan artinya pelatuk ini kuat dan teruji," tambah Raymond. 

Untuk seher, Mansuri pakai milik CBR 150R. Seperti umumnya mekanik yang suka dengan pilihan seher CBR 150R. Alasannya lebih ringan dan tingkat gesekannya juga minim. Sehingga mengurangi beban mesin. 

Mansuri memilih seher CBR 150R yang punya diameter 67 mm. Ini sama saja dengan menggunakan seher oversize 350. Di pasaran tersedia sampai ukuran oversize 400. 

Lalu Suri juga menaikkan stroke atau langkah seher. Kini stroke sudah 70 mm. Katanya hasil dari penggunaan pen stroke 6 mm produk CLD. Wah, kalau begitu langkah seher sebenarnya yaitu stroke standar Mio 57,9 mm + 12 mm. Jadinya 69,9 mm. 

 Hasil perbaduan seher dan stroke jadinya kapasitas silinder kini sekitar 243 cc. Akibatnya suplai gas bakar harus diperbesar. Caranya menggunakan klep payung besar. Yaitu pakai klep EE, katup in 31 mm dan ex 26 mm.

Durasi klep dibuat 272 derajat. “Dengan perpaduan rasio kompresi 13,8 : 1,” ungkap Suri yang tidak merinci durasi kemnya itu.

Selain itu, ditunjang menggunakan karburator Keihin PE 28 yang direamer jadi 31 mm. Untuk turun di kelas 201 meter tidak bisa menggunakan rasio standar yang cepat habis nafasnya. Setingan yang pas yaitu 14/40.    (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban belakang : Primax 60/80-17
Ban depan : Primax 70/80-17
CDI : Fino 5VV
Pelek : Excel Takasago 1,20 & 1,40x17

Senin, 19 Desember 2011

Juara Umum MP7 Honda Racing Champinoship 2011, Honda BeAT



Honda BeAT yang dipacu M. Nurgianto ini meraih juara umum di kelas MP7 Honda Racing Champinoship 2011. Gelar didapat usai racer tim Kawahara JP Racing PCO ini sukses menaklukan sirkuit Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur (04/12).

Selain kehebatan Nurgianto dalam membaca racing line, engine juga punya pengaruh besar. Yuk dibedah seting yang diterapkan! Buat gapai kapasitas 130 cc, piston mengandalkan merek Kawahara Racing diameter 54,5 mm. Tapi, tak hanya piston saja, lho. Blok silinder juga ambil dari merek yang sama. Lha wong dijual satu set kok!

Kubah alias dome piston dipapas lagi 1 mm. Tujuannya buat kurangi rasio kompresi. Kalau enggak dipapas, kompresi main di 13,2 : 1. “Setelah dipapas, jadi 12,5 : 1,” ujar Mariasan Kocek, selaku tunner tim yang bermarkas di Kp. Sawah, Ciputat, Tangerang ini.

Permainan juga diikuti ubahan di head silinder. Untuk atur buka-tutup klep, durasi kem Kawahara tipe K-2 untuk BeAT dimainkan. Tapi, durasi diatur ulang agar sesuai kebutuhan.

"Durasi main di 268º. Pinggang kem dibuat jadi 25 mm,” bilang tunner yang karib disapa Marco yang artinya singkatan dari nama panjangnya itu. Biar lebih detail, Marco pun berani kasih rincian. Hitungannya setelah dial, klep in membuka 32º sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 56º setelah TMB (Titik Mati Bawah). So, 32º + 56º + 180º = 268º. Durasi dan buka-tutup yang sama, juga berlaku buat klep buang. Klep ex, membuka 56º sebelum TMB dan menutup 32º setelah TMA. 56º + 32º + 180º = 268º.

Lewat durasi ini, bisa ditebak kalau Lobe Separation Angle (LSA) bermain di 102º. Angka yang dihasilkan LSA ini, punya kecenderungan tawarkan power band lebih lebar di putaran atas.

Karakter ini juga cocok dengan sirkuit Kenjeran dan gaya balap Nurgianto yang menyukai teknik rolling speed. Maka itu, racer karib disapa Anto itu tinggal menjaga rpm agar tak turun drastis. Jadi, power terus mengalir.

Power, bermain di putaran tinggi. Artinya, kebutuhan di ruang bakar pun musti tercukupi. Maka itu, lift klep dibuat tinggi. Buat klep in, dikasih 9,2 mm. Sedang klep buang, 9 mm. Lift klep ini didapat berkat penggantian klep.

Klep pakai punya Honda Sonic. Diameter batang sih sama dengan BeAT. Tapi, punya Sonic batangnya bisa dibuat lebih panjang. Makanya bisa bikin lift klep tinggi,” beber tunner yang sejatinya juga pembalap MotoPrix ini. Buat klep isap, diameter tetap dibuat jadi 25,5 mm. Sedang klep buang, juga sesuai standar yang main di 21 mm.

Buat temani kinerja klep agar konstan bermain, pilihan per klep jadi penentu. Karena putaran engine skubek tak seperti bebek yang kerap sentuh 14.000 rpm, Marco hanya mengandalkan pegas klep milik Yamaha Mio. Per klep ini pun didobel lagi pakai per milik Honda Grand. “Kerenggan klep main di 0,015 mm,” tutup pria berdarah Betawi ini. Congrastz Bor!  (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR 90/80-14
Kampas kopling : Kawahara
Sok belakang : RRGS
Knalpot : Kawahara
Main/pilot jet : 100/ 42

Bernuansa Hitam Dof, Yamaha Luncurkan Factor YBR 125 Black Edition



Belum lama ini, Yamaha di Brazil baru saja meluncurkan Factor YBR 125 Black Edition. Varian ini dijual terbatas dan memiliki ciri menarik pada pemilihan warnanya.

Sesuai namanya "black edition" sudah pasti dilabur warna hitam. Uniknya, pada beberapa bagian seperti tutup samping tanki, sepatbor depan dan cover aki dikelir warna hitam dof.

Tapi beberapa bagian tetap berwarna hitam mengkilap. Makin gagah bagian bibir peleknya dilengkapi lis warna merah, kontras dengan warna dasarnya yang gelap.

Warna hitam yang tidak mengkilap ini masih belum populer di Indonesia, tapi di Brazil mungkin konsumen sudah bisa menerima. Apalagi sebelumnya Yamaha juga telah memasarkan Supersports YZF-R1 berwarna hitam dof.


Sedang untuk mesinnya, tidak ada yang berubah. Tetap mengusung satu silinder 125 cc, karburator Mikuni BS 25-nya sudah dilengkapi throttle position sensor (TPS) agar pengapiannya lebih presisi sesuai bukaan gas.

Yamaha mengklaim tenaganya mencapai 10,2 dk pada 7.800 rpm, sedang torsinya mencapai 1,13 kgf.ma di 6.000 rpm. Oiya, satu yang baru adalah ban Metzeler ME Street. Ban dengan ukuran 2,75-18 di depan dan 90/90-18 di belakang juga diyakini membuat tampilannya lebih menarik.

Tertarik bikin warna yang serupa? (motorplus-online.com)

Yamaha R1 2012 Replika Giacomo Agostini Siap Dilelang



Siapa tak kenal Giacomo Agostini, sang juara dunia ini begitu lekat dengan pabrikan MV Agusta dan menjadi legenda Yamaha. Meski telah pensiun dan balap, kehadirannya di paddock Yamaha terus memberikan semangat bagi tim pabrikan Jepang ini.

Dan saat ini, Giacomo Agostini baru saja menandatangani sebuah Yamaha R1 versi 2012 dengan livery yang sama seperti pacuan balapnya di tahun 1975. Motif klasik ini lengkap dengan nomor 1, mengenang prestasinya meraih juara dunia.

Nantinya motor ini akan dilelang oleh badan lelang BVA-Automotive di Belanda pada awal Januari mendatang. Hasil lelangnya akan disumbangkan ke Yayasan Papageno, sebuah lembaga untuk membantu anak-anak autis.

Yamaha R1 tahun 2012 ini merupakan pengembangan terakhir Yamaha pada superbike-nya. Memiliki empat silinder segaris dan dilengkapi dengan Traction Control System dengan 6 pilihan sensitifitas. Tenaganya yang besar makin disempurnakan dengan knalpot Akrapovic tipe Titanium Slip-on.    

Tertarik Untuk Nge-bid? (motorplus-online.com) 

Suzuki GW250 Dijual Rp 40 Jutaan, Launching Tengah Tahun 2012



Suzuki GW250 hampir pasti dipasarkan di Indonesia tahun 2012 mendatang, bahkan Suzuki Motor Corporation (SMC) lewat press realese yang diterima redaksi dengan gamblang menyebutkan kalau GW250 dari China akan di jual di Eropa, Indonesia dan Amerika Selatan.

Di China dan Eropa sudah duluan mengaspal, bahkan di Inggris hadir dengan nama Suzuki Inazuma 250. Lalu kapan motor sport turing ini akan resmi dijual di Indonesia?

"Kalau tidak ada halangan tengah tahun 2012, kemungkinan pas Pekan Raya Jakarta (PRJ)," bisik narasumber dari PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), ATPM Suzuki di Indonesia.

Sedang harganya tetap akan masuk segmen premium di angka Rp 40 jutaan. "Harganya tidak akan jauh dari Ninja 250R dan CBR 250R," bebernya lagi.

Menurutnya, motor ini punya diferensiasi bila dibandingkan dengan dua motor sport 250 cc yang sudah lebih dulu beredar. GW250 bukan sport fairing, jadi lebih cocok untuk perjalanan dalam kota.

"Selain itu mesinnya juga dua silinder bukan seperti CBR 250R yang hanya satu silinder," ungkapnya yakin motor ini bakal ramai diserbu pecinta turing.

Motor ini mengusung mesin dua silinder. Tiap kepala silinder punya konstruksi single overhead camshaft (SOHC) dan 2 klep. Meski teknologinya sederhana, tapi sudah mengadopsi injeksi bahan bakar dan berpendingin air. Suzuki mengklaim tenaganya mencapai 18 kW di 8.500 rpm.

Wheelbase-nya yang panjang hingga 1.430 mm menjelaskan kalau motor ini lebih mengutamakan stabilitas ketika berkendara jauh. Suspensi depan teleskopik dan monoshock di belakang diharapkan mampu membuat perjalanan lebih mengasyikan. (motorplus-online.com)